You Are Here : Home News BALAI PETERNAKAN PADANG MANGATEH PAYAKUMBUH

BALAI PETERNAKAN PADANG MANGATEH PAYAKUMBUH

NEW ZEALAND NYA INDONESIA

Kami dari tim Jackhorse merasa penasaran oleh foto-foto yang dikirimkan oleh teman-teman kami di Payakumbuh, pemandangan yang indah dengan latar belakang puncak gunung yang dibawahnya terhampar padang rumput luas yang dihuni oleh ribuan sapi. Inilah peternakan yang berlokasi di punggung kaki gunung Sago, Kab.Limapuluh Kota. Kami penulis yang juga berasal dari Payakumbuh tidak mengira bahwa peternakan ini sungguh mempesona saat ini.

Karena waktu kunjungan kami adalah pada hari libur, sehingga tidak banyak informasi mengenai sejarah berdirinya peternakan ini yang kami dapatkan. Balai peternakan ini merupakan peninggalan zaman penjajahan Belanda karena dibangun pada tahun 1916. Pada tahun 1985, balai peternakan mulai dikelola oleh pemerintah pusat dan berganti nama menjadi Balai Pembibitan Ternak Unggul (BPTU) Sapi Potong Padang Mangateh pada tahun 2012. Sejak diambil alih oleh pemerintah, ternak yang dipelihara hanya sebatas sapi - sapi unggul seperti Sapi Limousin , Sapi Simental dan Sapi khas Indonesiya itu Sapi Pesisir dengan jumlah sapinya sebanyak 1.250.

Selain memiliki pemandangan ala New Zealand, tempat ini juga memiliki udara yang sejuk dengan suhu 18 - 28' C karena berada di ketinggian 700 - 900 dpml dengan luas lahan 280 Ha.

Dari pusat kota Payakumbuh, tempat ini bisa ditempuh dengan menggunakan mobil pribadi ataupun mobil sewaan (karena belum ada angkutan sampai ke lokasi) dengan waktu tempuh 15 – 25 menit saja. Dari jalan utama kita akan berbelok menuju arah gunung Sago, jalanan yang mulai mendaki membuat seolah-olah perjalanan ini adalah perjalanan naik gunung dengan menggunakan kenderaan mobil. Setelah 3-5 menit perjalanan kita akan menemui pos pemeriksaan atau pos jaga. Dari pos jaga ke lokasi peternakan hanya memerlukan waktu sekitar 3-5 menit juga.

Kami tidak tahu persis apakah lokasi ini digunakan juga sebagai tempat wisata umum yang bisa dikunjungi oleh masyarakat luas atau tidak setiap waktu atau tidak? karena banyak sekali wisatawan dari luar kota yang datang sekedar berwisata dan menambah ilmu pengetahuan walaupun pada hari libur dan tidak ada petugas resmi. Ini harus diperjelas oleh pihak yang berwenang karena kondisi ini dimanfaat oleh petugas yang berjaga untuk memungut uang tanpa ada tiket resmi. Mulai dari pintu masuk sampai pungutan Rp 10,000./orang untuk berkeliling menggunakan kenderaan tracktor gandeng ( mereka sebut odong-odong). Diperkirakan sekali angkut petugas mendapatkan Rp 250,000.- karena kapasitas kenderaan adalah 25 orang (anak-anak dan dewasa membayar sama besar).

Dengan tidak mengurangi tujuan kami berbagi, inilah hasil jepretan tim JACKHORSE….